Skip to content

ALLAH KITA ADALAH API YANG MENGHANGUSKAN !

Ps. Debora Henubau

(Ringkasan Khotbah Minggu 28 Juli 2019)

Tuhan Yesus mengajar perumpamaan tentang penabur yang menaburkan benih di empat jenis tanah, benih itu adalah firmanTuhan, dan tanah itu menggambarkan hati kita. Perumpamaan ini diajarkan oleh Tuhan Yesus yang menjeskan kepada kepada kita tentang sikap hati kita pada waktu kita mendengar firman Tuhan. Dari keempat jenis tanah itu, hanya tanah yang subur yang menerima benih itu sehingga benih itu dapat bertumbuh, berakar kuat dan berbuah.

Setiap kali kita mendengar ada dua pendengaran/ telinga yang kita pakai; telinga jasmani dan telinga rohani, itu sebabnya Tuhan menghendaki setiap kali kita mendengar firman Tuhan, respon kita seharusnya mendengarkan dengan baik-baik firman yang disampaikan dan menerima firman itu tertanam kuat di dalam hati kita, sehingga kita bisa mengalami kuasa firman Tuhan itu dalam hidup kita.

Setiap kali kita mendengarkan firman Tuhan, sikap hati kita harus terbuka lapar dan haus, sekalipun firman Tuhan itu mungkin sudah pernah kita dengar. Jangan membatasi firman Tuhan dengan pikiran kita, tetapi selalu terima firman Tuhan itu sebagai pewahyuan yang baru, dan rhema untuk kita secara pribadi, dan selalu terbuka untuk menerima firman Tuhan apa adanya, karena firman Tuhan adalah kebenaran (Yohanes 17 : 17) dan kebenaran itu memerdekakan (Yohanes 8 : 32) apabila firman itu diterima sebagai kebenaran.

Ibrani 12 : 28 – 29 Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Tuhan kita adalah Api yang menghanguskan. Tuhan tidak TETAP SAMA, Dia tidak pernah berubah dahulu sekarang dan sampai selamanya. Jangan salah mengerti tentang Tuhan yang kita sembah, Tuhan dalam Perjanjian Lama (PL) dan Tuhan dalam Perjanjian Baru (PB) adalah SAMA, dan tidak pernah berubah seiring waktu/ zaman. Tuhan kita adalah Tuhan yang kudus, Dia selalu baik, setia, dan penuh kasih dan pengampunan, sejak semula (penciptaan) Tuhan selalu ingin berbicara dan bergaul karib dengan Adam, Henokh, bahkan sampai hari ini, Dia selalu rindu untuk bersekutu dengan kita setiap hari.

Sejak awal bukanlah Allah yang memisahkan diri dari manusia, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi dosalah yang memisahkan manusia dari Tuhan. Dosalah yang sebenarnya menjadi pemisah antara kita dengan Tuhan! Namun karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, itu sebabnya Bapa memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya kita yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan memiliki persekutuan kembali dengan-Nya. Kasih Bapa adalah memberi, karena Bapa murah hati, dan penuh kasih karunia, kebaikan, panjang sabar, menganpuni, hal inilah yang seringkali membuat orang sering lupa bahwa Allah itu juga kudus, Dia adalah api yang menghanguskan! Ibrani 12 : 29

Ibrani 12 : 18 – 29 Dulu pada zaman PL bangsa Israel mengenal Tuhan berjarak, dari jauh, mereka tidak bisa secara langsung mendengar Tuhan, mereka harus melalui perantaraan nabi Musa, karena hanya Musa yang dipilih dan layak mendekat kepada Tuhan untuk menerima perintah Tuhan bagi Israel. Bangsa Israel tidak bisa langusng bertemu Tuhan, karena Tuhan kudus, dan siapa datang mendekat kepada-Nya harus kudus, karena kalau mereka mendekat pasti akan mati, kena hukuman, disambar, dan hal itu sangat menakutkan.

Sekarang kita hidup di zaman kasih karunia, kita diampuni, diselamatkan, dan dilayakkan, sehingga kita bisa bersekutu dan mengenal Tuhan secara pribadi, namun hal itu bukan berarti Tuhan menjadi “lebih lemah” dibandingkan zaman PL, TIDAK! Tuhan tetaplah Api yang menghanguskan!

Pada zaman PL, bukan hanya Bangsa Israel, tetapi juga Musa sangat ketakutan dan gemetar ketika masuk dalam hadirat Tuhan bertemu dengan Tuhan. Karena kekudusan Tuhan seperti api yang menghanguskan. Jika dulu Musa dan bangsa Israel ketakutan pergi menghadap Tuhan di atas gunung, namun sekarang kita yang mengalami kasih karunia Tuhan, melalui perantaraan Imam Besar kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus melayakkan kita untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya yang kekal. Oleh sebab itu, JANGAN MENYIA-NYIAKAN/ MEREMEHKAN, KASIH KARUNIA YANG BESAR YANG TUHAN SUDAH BERIKAN KEPADA KITA! Tanpa kasih karunia Tuhan, kita pasti sudah mati dan binasa!

Jagalah supaya jangan seorangpun menolak Tuhan yang berfirman kepada kita. Karena kalau Tuhan berbicara maka hal itu berarti Dia sedang berbicara langsung kepada kita. Roh Kudus senantiasa ada di tengah-tengah kita, namun kita seringkali tidak merasakan kehadiran-Nya karena kita tidak membuka hati dan meridukan-Nya.

Jika Tuhan hadir di tengah kita, maka kemuliaan dan kekudusan-Nya juga nyata, itulah sebabnya kita harus kudus 1 Petrus 1 : 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu , sebab Aku kudus artinya Pada Waktu kita masuk ke dalam hadirat Tuhan dan kekudusan-Nya, kitalah yang sebenarnya HARUS MENYESUAIKAN DIRI KITA DENGAN TUHAN!

Apa itu Kudus ? Kudus adalah IDENTITAS TUHAN SENDIRI, kudus itulah Tuhan, dan Tuhan adalah kudus. Jika firman Tuhan berkata “kuduskanlah kamu” maka hal itu berarti kekudusan juga adalah indeitas kita, karena kita adalah anak-anak Bapa. Sebagai anak-anak Bapa kita harus kudus. Tuhan tidak mau kita terpisah dengan-Nya, itu sebabnya Bapa memberikan Tuhan Yesus anak-Nya sebagi Penebus, dan di dalam Dialah kita semua dikuduskan dan dilayakkan di hadapan Bapa. Kita dikuduskan supaya kita bisa mendekat dan mengenal Bapa dengan benar.

Ibrani 12 : 26 – 28 Segala sesuatu (ekonomi, kesehatan, kenyamanan, dll) di bumi ini akan tergocangkan, namun akan tinggal tetap yang tidak tergoncangkan itulah Kerajaan Allah) kita lah menerima yang tidak tergoncangkan itulah sebabnya beribadahlah kepada Allah dengan cara yang berkenan kepada-Nya.

Roma 12 : 1 – 2 (baca) Ibadah yang sejati artinya mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah. Tubuh kita adalah Bait Allah, jika kita mau beribadah mak seluruh tubuh kita harus kudus. Persembahkan tubuhmu; pikiran, perasaan, imajinasi, keinginan kepada Tuhan. Karena Tuhan Kudus, maka Ia menghendaki agar kita kudus dan menjadin serupa dengan-Nya, itu sebabnya Dia tidak mau jika kehidupan kita serupa dengan dunia ini.

Tuhan tidak ingin kita menjadi serupa dengan “bapa-bapa” yang lain, yaitu iblis, bapa segala pendusta, penuh tipu daya dan kebencian serta pembunuh manusia sejak semula. Itulah sebabnya jangan berkata-kata dusta, ataupun membenci karena hal itu berarti kita membunuh. Karena sejak semula Kain membunuh Habel, karena kebencian, cemburu, dan iri hati.

Siapa Bapa kita? Apakah kita sudah serupa dengan Dia (Bapa di Surga)?
Berubahlah menurut pembaharuan budi. You always choose according who you think you are. Kita selalu membuat pilihan-pilihan dalam hidup kita berdasarkan apa yang kita pikir tentang diri kita. Apa yang kita pikirkan tentang diri kita akan mempengaruhi pilihan yang kita buat. Oleb sebab itu, pikiran kita harus terus-menerus diperbaharui, caranya adalah masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan dan firman-Nya.

Bapa selalu mendengar doa dari anak-anak-Nya. Yakobus 5 : 16 Akui dosa kita, saling mendoakan supaya disembuhkan, karena doa orang yang benar, besar kuasanya! Tuhan hanya menjawab sesuai dengan rencana-Nya, Dia tidak akan menjawab sesuatu yang diluar dari ap yang Ia rancangkan. Tuhan hanya mendengar dan menjawab doa kita jika kita benar dan kudus di hadapan-Nya.

Seringkali doa kita tidak dijawab karena apa yang kita doakan hanya untuk memuaskan hawa nafsu. Bagaimana agar doa kita dijawab? masuklah dalam persekutuan denganNya supaya kita mengerti kebenaran, kehendak dan rancangan Tuhan dalam hidup kita.

Roma 14 : 7 – 8, 12 Apa yang Tuhan punya itulah yang dia berikan kepada kita, rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Apa yg Tuhan rancangan pasti terjadi asalkan kita ada dalam rancangan-Nya karena Tuhan yang mempunyai rencana, maka kita harus menyesuaikan diri kita dengan Tuhan. Tuhan memanggil kita supaya kita kuduskan kita untuk hidup dalam rancanganNya, karena pada akhirnya semua orang harus memberikan pertanggungan jawaban di hadapan Tuha.

Efesus 1 : 4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

No results found...