Ps Marthinus Radja Ada tiga hal yang akan kita pelajari untuk menjadi gereja yang bersepakat…
AIR MATA YUSUF
Ev. Yohanes Utomo
(Ringkasan Khotbah Minggu 14 Februari 2016)
Pembacaan Alkitab : Kejadian 45 : 1 – 15
Dalam kitab Kejadian tertulis ada delapan kali Yusuf menangis Kejadian 42 : 24; 43 : 30; 45 : 2, 14, 15; 46 : 29; 50 : 1; 50: 17. Dan dari air mata Yusuf ini, kita akan belajar tentang kebenaran yang Tuhan akan nyatakan kepada kita melalui firman-Nya.
Banyak orang beranggapan jika seseorang menangis (mengelurkan air mata) itu adalah tanda kelemahan. Namun, yang sebenarnya air mata belum tentu sebagai tanda kelemahan. Karena orang yang menangis belum tentu lemah. Daud berkata Mazmur 42 : 4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam… Yohanes 11 : 33 – 35 Tuhan Yesuspun menangis ketika melihat Maria menangis pada waktu Lazarus mati. Air mata itu bukanlah air mata kelemahan, tetapi air mata kekuatan.
Ada beberapa hal yang kita akan pelajari tentang air mata Yusuf:
1. Air mata Yusuf bukanlah air mata kelemahan, tetapi air mata Yusuf adalah air mata kekuatan. Kejadian 45 : 15 (baca)
Air mata Yusuf adalah air mata kakuatan karena dia BERANI MERENDAHKAN DIRINYA, dan mengambil inisiatf lebih dahulu untuk mengadakan rekonsiliasi (berbaikan) dengan saudara-saudaranya. Hal ini tidaklah mudah, karena kenyataannya banyak orang kristen gengsi untuk berbaikan, apalagi terhadap kesalahan orang lain, mereka akan cenderung untuk menyalahkan dari pada menyelesaikannya.
Air mata diciptakan Tuhan memiliki fungsi bagi tubuh kita. Secara medis air mata pun memberi dampak bagi kesehatan: membantu kita untuk melihat dengan jelas, membunuh bakteri, melepaskan racun, mencegah infeksi, menangis akan membuat mood seseorang lebih baik, melegakan perasaan, menguarangi stres, dsb.
2. Air mata Yusuf tidak menyimpan kesalahan orang lain
Umumnya ketika kita diperlakukan dengan buruk oleh orang lain, baik dalam perkataan, sikap,dan perbuatan, kita akan cenderung menyimpan kesalahan mereka dan tidak melupakannya. Pada waktu Yusuf ada di Mesir dia berkata Kejadian 41 : 51 (baca) Allah telah membuat Yusuf lupa sama sekali akan kesukaran dan kepada rumah bapanya. Seringkali kitamengampuni kesalahan orang lain, tetapi terkadang tidak melupakan kesalahannya. Yusuf adalah orang yang kuat, karena dia mengampuni dan tidak mengingat lagi apa yang menjadi kesalahan saudara-saudaranya.
Di akhir zaman ini Allah sedang mencari Yusuf-Yusuf akhir zaman yang dapat menjadi berkat bagi keluarga dan bangsanya, yaitu orang-orang yang ingin memuliakan nama Tuhan, memperluas kerajaan Allah, dan ingin memberitaklan Injil dan menyatakan kasih Tuhan bagi banyak orang.
Jika kita diperlakukan tidak baik oleh orang-orang yang dekat maupun jauh dari hidup kita, ingatlah air mata Yusuf ini, AIR MATA KEKUATAN yang mengampui dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
3. Air mata Yusuf tidak memiliki kepahitan
Tuhan menghendaki agar tidak ada KEPAHITAN dalam hati kita, tetapi kita harus memiliki KASIH Kristus yang selalu memulihkan keadaan kita, baik secara pribadi, maupun hubungan kita dengan orang lain.
Kepahitan, sifatnya adalah MENCEMARKAN orang lain dan lingkungan. Ibrani 12 : 15  agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang†.
Kepahitan selalu MENULAR. Itu sebabnya perkataan-perkataan dan kalimat-kalimat negatif (baik yang diperkatakan maupun melalui pesan singkat, WA, BBM, Sosmed dsb) yang keluar dari hati dan mulut seorang yang mengalami kepahitan akan mempengaruhi, merasuki bahkan menyakiti orang lain di sekitarnya.
4. Air mata Yusuf membalas kejahatan dengan kebaikan, menjadi berkat bagi saudara-saudaranya.
Yusuf adalah orang yang kuat, karena Yusuf tidak tergores hatinya oleh perlakukan buruk dari saudara-saudaranya. Mereka iri hati dan berusaha membunuh Yusuf, tetapi Yusuf sama sekali tidak membalas kejahatan saudara-saudaranya, dia sama sekali tidak memiliki kepahitan, meskipun sebagai orang yang berkuasa di Mesir Yusuf memiliki kesempatan untuk menghakimi mereka.
Kejadian 50 : 19 (baca) Yusuf tidak menghakimi dan membalas semua perbuatan saudara-saudaranya, tetapi dengan kasihnya yang besar Yusuf justru menolong dan memelihara seluruh kehidupan keluarganya.
5. Air mata Yusuf berasal dari HATI YANG MEMILIKI KASIH ALLAH.
Kekuatan Yusuf bukan dari dirinya sendiri, tetapi berasal dari ALLAH. 1 Yohanes 4 : 19 (baca) Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. jika kita ingin mengasihi orang lain, maka kita harus lebih dahulu belajar untuk menerima kasih Allah. mengapa demikian? Karena tanpa kasih Allah, seseorang hanya bisa mengasihi karena motivasi tertentu, dan bukan berdasarkan kasih yang tulus.
Dalam hidup ini, kita tidak bisa lepas dari orang-orang yang menyakiti kita, karena pada dasarnya kita hidup di lingkungan yang berdosa, dengan orang-orang yang memiliki pendidikan yang beragam, dan memiliki latar belakang yang keras dan jahat. Pasti ada saatnya kita disakiti dan diperlakukan tidak baik, Tetapi kita bisa belajar 1 Petrus 3 : 8, 12 (baca) Sebagai anak-anak Tuhan, yang keluar dari hidup kita (cara kita meresponi setiap malasaha) adalah dengan hal-hal yang benar dan yang positif, dan bukan hal-hal yang negaitf.Jika kita melakukan kebenaran, maka Tuhan pasti menjadi pemebla dan menolong kita dari setiap kesulitan kita.
JAGA PERKATAAN KITA, karena perkataan itu seperti anak panah, jika sudah dilepaskan, maka tidak akan kembali lagi, dan akibatnya bisa menyakiti dan membunuh orang lain.
Efesus 4 : 29 – 31 (baca) Jika kita hidup di dalam kepahitan, maka kita akan mendudukakan Roh Kudus. Dan jika Roh Kudus berduka maka kuasa-Nya tidak dapat bekerja dalam hdiup kita karena dalam hati kita dipenuhi semak dan duri. Jika duri tidak dibuang dari hati kita maka hal itu akan lama-kelamaan membunuh kita. Itu lah sebabnya, dalam situasi apapun yang kita hadapi, ingatlah bahwa PEMBALASAN itu adalah hak Tuhan. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi nyetakanlah kasih, hiduplah dalam damai, dan saling menghampuni.
Mengapa Yusuf tidak tergores terhadap perlakuan saudara-saudaranya? Karena hidupnya selalu BERFOKUS KEPADA ALLAH (Teosentris) Kejadian 41 : 51, 52; 45 : 7, 8; 50:20 (baca) Yusuf menyadari bahwa semua yang dia alami, semata-mata karena Tuhan yang melakukannya.
Jika kita ingin berjalan semakin lama semakin kuat, maka kita harus fokus kepada Allah. karena orang yang berfokus kepada Allah, akan mendapat KEKUATAN yang melimpah-limpah Filipi 4 : 13 (baca), orang yang berfokus kepada Allah, akan mengalami berkat dan kedudukan yang berasal dari Allah.
Orang yang berfokus kepada Allah adalah orang yang memiliki hidup dan tujuan hanya untuk Tuhan dan kemuliaan-Nya. Sebagai anak-anak Tuhan (warga GDS) Kita harus bekerja, berusaha, melayani dengan miliki TUJUAN untuk memuliakan Tuhan, dan jangan hanya asal-asalan. Yohanes 13 : 34 – 35 (baca) Kita melayani dengan Kasih Kristus, supaya semua orang tahu bahwa kita adalah murid Tuhan. Yohanes 15 : 8 (baca) Bapa di Surga dipermuliakan jika kita menjadi pelaku firman dan berbuah bagi Kerajaan-Nya.
Untuk mengasihi dan berkorban bagi orang lain, tidak perlu kita harus memiliki kelimpahan lebih dahulu. karena untuk mengasihi dan berkorban itulah panggilan hidup kita. KASIH tanpa perngorbanan tidak ada artinya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga IA mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal bagi kita.
6. Air mata Yusuf memberikan belas kasihan (Compassion)
Sympathy adalah turut berdukacita melihat penderitaan orang lain, empathy mengalami dan merasakan penderitaan seperti seolah-olah kita yang mengalaminya. Sedangkan compassion adalah tindakan kasih Implementasi. Itulah yang Yusuf miliki, Yusuf berbelas kasih kepada saudara-saudaranya, dia peduli dan memilihara mereka dengan memberi tempat terbaik.
Yohanes 15 : 17 kasihilah seorang dengan yang lain.
Yohanes 14 : 21 Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. Jika kita mengasihi Tuhan kita akan menjadi pelaku FIRMAN TUHAN dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki bagi kita untuk dilakukan.
