Ps Marthinus Radja Ada tiga hal yang akan kita pelajari untuk menjadi gereja yang bersepakat…
YOU RISE ME UP
Ev. Yohanes Oetomo
(Ringkasan Khotbah Minggu 7 November 2015)
Pembacaan Alkitab : Matius 14 : 30 ; Mazmur 23 : 4
Hari ini kita akan beelajar mengenai; Bagaimana sikap kita sebagai anak-anak Tuhan agar tidak tenggelam dalam masalah kehidupan, dan bagaimana menang atas takut untuk menghadapi masa depan. Dari kedua ayat pembacaan alkitab diatas ada kata yang menghubungkan kedua ayat ini, yaitu kata “TAKUTâ€Â. Dalam Matius 14: 30 “takut tenggelamâ€Â, sedangkan Mazmur 23 : 4 “tidak takutâ€Â
Kata “TAKUT†dalam bahasa Yunanti adalah “PHOBIAâ€Â, artinya: Rasa takut yang berlebih-lebihan, dan yang menetap terhadap sesuatu (orang, binatang, benda, keadaan, dsb). Dalam kehidupan di dunia ini, banyak orang hidup di dalam ketakutan, mereka dihantui oleh rasa takut, sebagai akibat tenggelam dalam berbagai masalah dan kesulitan; rumah tangga, sakit penyakit, ekonomi, pekerjaan/ usaha, dll.
Kita akan belajar bagaimana supaya tidak takut dan tenggelam dalam masalah :
  1.   Miliki waktu pribadi untuk selalu bersekutu dengan Tuhan.
Matius 14 : 22 – 23 (baca) Setelah memberi makan lima ribu orang, Tuhan Yesus kemudian menyuruh orang banyak untuk pulang, dan murid-murid-Nya untuk bertolak ke seberang. Mengapa demikian? Karena Tuhan Yesus ingin agar Ia bisa berdoa seorang diri, dan bersekutu dengan Bapa di surga.
Sekalipun pelayanan merupakan hal yang penting, tetapi hal itu tidak boleh kita lakukan sedemikan rupa sehingga kita tidak mempunyai waktu pribadi dengan Tuhan. Kita harus ingat bahwa sekalipun kita adalah “hamba†dan terpanggil untuk melayani Tuhan, tetapi status kita juga adalah “anak†dimana Bapa menghendaki kita memiliki waktu untuk bersekutu dengan-Nya secara pribadi.
Sekalipun Alkitab mengajarkan bahwa persekutuan bersama (komsel, kubu doa, ibadah raya) merupakan sesuatu yang penting, karena memiliki kuasa yang besar. Tetapi persekutuan secara pribadi juga sangat penting, karean hal itu adalah hubungan yang dalam dengan Tuhan.
Ingatlan bahwa hubungan kita dengan Tuhan sering juga digambarkan sebagai sepasang kekasih (mempelai laki-laki, dan mempelai wanita). Hal itu jelas menunjukan bahwa Tuhan menghendaki agar kita memiliki waktu pribadi untuk bersekutu seorang diri dengan-Nya pada saat-saat tertentu. Kita harus miliki tempat yang sunyi untuk berdoa.
Seringkali tingkat kerohanian yang kita capai, tergantung dari seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bersekutu dengan Tuhan Yesus. Jika Tuhan Yesus, sebagai Anak Allah sendiri memberikan teladan untuk berdoa dan bersekutu dengan Bapa di surga, maka dari itu kita (saudara dan saya) harus memiliki waktu untuk bersekutu secara pribadi dengan Tuhan.
Jika segala sesuatu lebih diutamakan dari persekutuan pribadi dengan Tuhan Yesus, maka kita sering terjebak dalam keadaan seperti Marta. Lukas 10 : 40 – 41 (baca). Apabila kita hanya sibuk melayani Tuhan, lebih dari mengasihi Tuhan dan menyediakan waktu untuk Tuhan, maka yang terjadi adalah kekuatiran dan beban yang berat akan kita alami.
Di dunia ini ada pepatah : “Jauh dimata dekat di hatiâ€Â, tetapi hati-hati, secara rohani hubungan kita dengan Tuhan jangan mengalami hal yang sebaliknya yaitu “Dekat di mata, jauh di hatiâ€Â. Alkitab menggambarkan dua contoh:
1. Martha
Lukas 10 : 41 Martha berada di dekat Tuhan Yesus, tetapi hatinya menjauh dari Tuhan. Tuhan Yesus pernah menegur orang farisi dan ahli Taurat Matius 15 : 8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku…
2. Anak sulung
Lukas 15 : 27 – 28 Anak sulung marah dan merasa iri hati ketika melihat bapanya merayakan anak bungsu yag kembali pulang setelah pergi dari rumah. Orang yang hatinya jauh dari Tuhan akan selalu merasa kasih Tuhan berkurang, merasa kesepian di tengah-tengah keramaian, akibatnya mengasihani diri sendiri (self pity) dan iri hati.
Kita harus memiliki waktu yang berkualitas bersama dengan Tuhan, karena jika tidak, maka kita akan sering tidak menikmati hadirat Tuhan, tidak mengerti hati Bapa, hanya fokus kepada diri sendiri. Oleh karena itu, supaya kita tidak takut, dan tidak tenggelam dalam masalah dan kesulitan yang kita hadapi, milikilah waktu-waktu pribadi untuk bersekutu dengan Tuhan! Setiap kali kita bersekutu dengan Tuhan, kita akan diberikan kekuatan yang baru (Yesaya 40: 29 – 31; 2 Timotius 1 : 7; Mazmur 84 : 5)
  2.   Berjalan dan melangkah berdasarkan FIRMAN TUHAN.
Matius 14 : 28 (baca) Petrus mengenal suara Tuhan Yesus, itu sebabnya, Petrus ingin mendekati Tuhan Yesus dengan berjalan di atas air, ketika Tuhan Yesus berseru kepada murid-murid-Nya yang sedang takut.
Raja Daud menggambarkan hubungan kita dengan Tuhan, seperti gembala dengan domba. Hubungan domba dan gembala sangat erat, karena domba sangat bergantung kepada gembanya. Tuhan Yesus berkata: Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku…Yohanes 10 : 27. Jangan ikuti suara dunia ini, tetapi ikuti suara Tuhan, karena suara Tuhan adalah benar, dan memimpin kita kepada keselamatan.
Kita barus berjalan bersama dengan Tuhan, berjalan dalam kepekaan dan ketaatan melakukan firman-Nya. Petrus tahu bahwa jika Tuhan menyuruhnya untuk berjalan di atas air, maka ia pasti berjalan dia atas air. Itu sebabnya, Petrus melangkah dan berjalan di atas air, ketika Tuhan menyuruhnya. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus percaya bahwa apa yang sudah Tuhan firmankan tidak akan kembali dengan sia-sia.
Jika kita berjalan dalam firman Tuhan, maka jangan hanya berdasarkan teori saja, tetapi kita harus MEMPRAKTEKAN FIRMAN TUHAN! Petrus membayar harga untuk taat kepada Tuhan, pada akhirnya dia mengalami apa yang Tuhan katakan. Jadilah PELAKU firman Tuhan, jangan hanya pendengar saja.
Mengapa dalam Lukas 8 : 4 – 15 Tuhan Yesus memberikan perumpamaan firman Tuhan seperti “BENIH� karena Benih itu adalah KEHIDUPAN. Sekalipun kecil tetapi benih dapat bertumbuh menjadi sebuah pohon dan menghasilkan buah. Untuk bertumbuh maka benih itu harus ditanam di tanah yang subur.
Banyak orang ke gereja, mendengarkan firman Tuhan, tetapi apakah benih firmna itu bertumbuh? Di dunia ini banyak kalimat yang bisa kita jumpai di media, tetapi hanya firman Allah sajalah yang mengandung kuasa untuk menghidupkan Yohanes 6 : 63 (baca) Karena firman itu hidup, maka firman Tuhan berkuasa untuk mengubahkan kehidupan setiap orang 2 Timotius 3 : 16 (baca) firman Tuhan diilhamkan oleh Tuhan, dalam bahasa aslinya Theo pneustos artinya “dihembuskan†oleh Roh Allah. Jadi kita dapat melihat ada kesejajaran dalam Penciptaan Adam (dihembuskan oleh nafas Allah) dengan pengilhaman Alkitab. Itu sebabnya, firman Tuhan bukan sekedar pengetahuan, tetapi berkuasa untuk menghidupkan, mengubah dan memperbaiki kelakuan. Ada kuasa dan kehidupan dalam perkataan firman Tuhan Roma 10 : 17 Jika firman Tuhan ditaburkan maka akan timbul IMAN.
BENIH firman Tuhan harus ditanam di dalam hati agar dapat bertumbuh dan menghasikan buah! Kta akan mengalami kemenangan, dan diberkati berkelimpahan Yesaya 41 : 10; Filipi 4 : 19 JAMINAN HIDUP KITA ADALAH dari TUHAN, dan bukan harta atau kekayaan; Yesaya 55 : 11 Firman tidak akan kembali dengan sia-sia. Kita harus fokus kepada firman Tuhan, dan buka hati kita untuk benih firman ditaburkan. Landaskan hidup kita dengan berjalan berdasarkan firman Tuhan, supaya kita tidak tenggelam.
  3.   Mata kita harus selalu tertuju kepada Tuhan Yesus.
Petrus tenggelam ketika dia sedang berjalan di atas air, karena fokusnya teralihkan ketika dilihatnya gelombang dan angin. Bagaimana supaya kita tidak tenggelam? Mata kita harus senantiasa tertuju kepada Tuhan Yesus. Pada waktu mata kita tertuju kepada Tuhan maka Tuhan akan memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita kepada kesempurnaan Ibrani 12 : 2. Artinya pada waktu kita melihat kepada Tuhan; iman kita akan naik dan semakin kuat, tetapi sebaliknya kita melihat kepada keadaan maka iman kita akan lemah dan turun Matius 14 : 31. Pada waktu FOKUS kita hanya kepada Tuhan maka kita tidak akan menjadi kuat dan berkemenangan.
Jika kita hanya mencari bukti kasih Allah melalui kesembuhan, kemakmuran, kesenangan, dll maka kita bisa salah paham dengan Tuhan. Lalu bagaimana Iman kita bertumbuh dan tidak menjadi lemah ketika kita mencari bukti kasih Allah? Hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus, lihatlah kematian Kristus, yaitu kasih yang sejati, kasih memberikan segalanya agar kita diselamatkan dan hidup dalam kelimpahan. MATA KITA harus TERTUJU kepada KRISTUS, dan bukan kepada keadaan.
Ketakutan: menghancurkan pengharapan akan semua janji Tuhan dalam hidup kita, membuat kita tidak taat kepada Tuhan, membuat iman kita luntur kepada Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus fokus hanya kepada Tuhan Yesus, dan bukan keadaan! (Tuhan adalah gembala yang baik Mazmur 23 : 1 – 6; Orang yang mencari Tuhan tidak akan kekurangan Mazmur 34 : 9 – 10; Matius 6 : 33 )
Yesaya 46 : 4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Dalam berjalan bersama dengan Tuhan sekalipun kita melintasi lembah kekelaman (bayang-bayang maut) kita harus tetap percaya kepada Tuhan. Dia akan bertindak menolong kita. Milikilah IMAN “SEKALIPUNâ€Â. Artinya, sekalipun kita tidak melihat namun kita percaya, jangan miliki iman “KARENA†kita percaya hanya karena Tuhan menolong kita. Kita harus percaya apapun keadaan yang kita alami, sekalipun mengalami kesulitan Habakuk 3 : 17 – 19, Jangan lihat keadaan tetapi lihatlah Tuhan senantiasa ada sebagai gembala untuk menolong kita tepat pada waktu-Nya.  Amin
